Selasa, 21 November 2017

Hari Suci Kuningan


Kegiatan WHDI pada hari suci kuningan


Makna Hari Raya Kuningan
Hari Raya Kuningan atau sering disebut Tumpek Kuningan jatuh pada hari Sabtu, Kliwon, wuku Kuningan. Pada hari ini umat melakukan pemujaan kepada para Dewa, Pitara untuk memohon keselamatan, kedirgayusan, perlindungan dan tuntunan lahir-bathin. Pada hari ini diyakini para Dewa, Bhatara, diiringi oleh para Pitara turun ke bumi hanya sampai tengah hari saja, sehingga pelaksanaan upacara dan persembahyangan Hari Kuningan hanya sampai tengah hari saja. Sesajen untuk Hari Kuningan yang dihaturkan di palinggih utama yaitu tebog, canang meraka, pasucian, canang burat wangi.

Di palinggih yang lebih kecil yaitu nasi selangi, canang meraka, pasucian, dan canang burat wangi. Di kamar suci (tempat membuat sesajen/paruman) menghaturkan pengambeyan, dapetan berisi nasi kuning, lauk pauk dan daging bebek. Di palinggih semua bangunan (pelangkiran) diisi gantung-gantungan, tamiang, dan kolem. Untuk setiap rumah tangga membuat dapetan, berisi sesayut prayascita luwih nasi kuning dengan lauk daging bebek (atau ayam). Tebog berisi nasi kuning, lauk-pauk ikan laut, telur dadar, dan wayang-wayangan dari bahan pepaya (atau timun). Tebog tersebut memaki dasar taledan yang berisi ketupat nasi 2 buah, sampiannya disebut kepet-kepetan. Jika tidak bisa membuat tebog, bisa diganti dengan piring.

Sesayut Prayascita Luwih : dasarnya kulit sesayut, berisi tulung agung (alasnya berupa tamas) atasnya seperti cili. Bagian tengahnya diisi nasi, lauk-pauk, di atasnya diisi tumpeng yang ditancapkan bunga teratai putih, kelilingi dengan nasi kecil-kecil sebanyak 11 buah, tulung kecil 11 buah, peras kecil, pesucian, panyeneng, ketupat kukur 11 buah, ketupat gelatik, 11 tulung kecil, kewangen 11 pasucian, panyeneng, buah kelapa gading yang muda (bungkak), lis bebuu, sampian nagasari, canang burat wangi berisi aneka kue dan buah. Sesajen ini dapat juga dipakai untuk sesajen Odalan, Dewa Yadnya, Resi Yadnya dan Manusa Yadnya. Beberapa perlengkapan Hari Kuningan yang khas yaitu: Endongan sebagai simbol persembahan kepada Hyang Widhi. Tamyang sebagai simbol penolak malabahaya. Kolem sebagai simbol tempat peristirahatan hyang Widhi, para Dewa dan leluhur kita.

Pada hari Rabu, Kliwon, wuku Pahang, disebut dengan hari Pegat Wakan yang merupakan hari terakhir dari semua rangkaian Hari Raya Galungan-Kuningan. Sesajen yang dihaturkan pada hari ini yaitu sesayut Dirgayusa, panyeneng, tatebus kehadapan Tuhan Yang Maha Esa. Dengan demikian berakhirlah semua rangkaian hari raya Galungan-Kuningan selama 42 hari, terhitung sejak hari Sugimanek Jawa. (Iloveblue). Jadi inti dari makna hari raya kuningan adalah memohon keselamatan, kedirgayusan, perlindungan dan tuntunan lahir-bathin kepada para Dewa, Bhatara, dan para Pitara.

hari suci galungan


Persiapan hari suci galungan

MAKNA Hari Suci Galungan
Hari Suci Galungan dimaknai kemenangan Dharma (Kebaikan) melawan aDharma (Keburukan), dimana pas Budha Kliwon wuku Dunggulan kita merayakan dan menghaturkan puja dan puji syukur kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa (Tuhan YME).
Mengenai makna Galungan dalam lontar Sunarigama dijelaskan sebagai berikut:
Budha Kliwon Dungulan Ngaran Galungan patitis ikang janyana samadhi, galang apadang maryakena sarwa byapaning idep
Artinya:
Rabu Kliwon Dungulan namanya Galungan, arahkan bersatunya rohani supaya mendapatkan pandangan yang terang untuk melenyapkan segala kekacauan pikiran.
Jadi, inti Galungan adalah menyatukan kekuatan rohani agar mendapat pikiran dan pendirian yang terang. Bersatunya rohani dan pikiran yang terang inilah wujud dharma dalam diri. Sedangkan segala kekacauan pikiran itu (byaparaning idep) adalah wujud adharma. Dari konsepsi lontar Sunarigama inilah didapatkan kesimpulan bahwa hakikat Galungan adalah merayakan menangnya dharma melawan adharma.
Parisadha Hindu Dharma menyimpulkan, bahwa upacara Galungan mempunyai arti Pawedalan Jagat atau Oton Gumi. Tidak berarti bahwa Gumi/ Jagad ini lahir pada hari Budha Keliwon Dungulan. Melainkan hari itulah yang ditetapkan agar umat Hindu di Bali menghaturkan maha suksemaning idepnya ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi atas terciptanya dunia serta segala isinya. Pada hari itulah umat bersyukur atas karunia Ida Sanghyang Widhi Wasa yang telah berkenan menciptakan segala-galanya di dunia ini.

HYMNE WHDI

Hong Ulun Basuki Langgeng

Hymne Wanita Hindu Dharma Indonesia
Lagu/Lyric: I Gusti Bagus Sutarta
Tempo: Syahdu/Maestosso


Oh Hyang Widhi anugrahi kami akal budhi pekerti
Di dalam kami mengabdi, hindarkan iri dan dengki
Berlandaskan Tri Hita Karana, Catur Purusa Artha
Di bawah naungan Wanita Hindu Dharma Indonesia

Doa Puja Stuti kami, senantyasa kepada Hyang Widhi
Semoga kiranya karma dan bhakti hamba jadi landasan terpuji
Tingkatkan citra diri, sbagai mitra sejati, jadi insan mandiri

Mewujudkan kluarga sejahtera, Sukinah Bhawantu
Demi kejayaan Wanita Hindu Dharma Indonesia Bersatu

Langgeng Basuki

MARS WHDI

Hong Ulun Basuki Langgeng


 Mars Wanita Hindu Dharma Indonesia
Lagu dan Lyric: I Gusti Bagus Sutarta
Tempo: Bersemangat/Dimarcia

WHDI Mitra sejati dalam membina generasi berbudhi
Membangun citra bangkit dari gulita Karma Wasana sebagai sesanthi puja
Wanita Hindu Dharma Indonesia garda terdepan dalam didik pra Putra
Bahumembahu, wujudkan cita karsa demi kejayaan Bangsa dan negara

Wahai kaum Sri Kandi penerus Era Kartini
Bervidya bagai sarasvati Putra Pertivi
Bijak bagaikan Devi Kunti lembut laksana laksmi Devi
Berwiweka slalu terpuji menebar empati

Wanita Hindu Dharma Indonesia
Bersatu berkarya juga sambil berdoa
Berjuang bersama hapus kebodohan
Tuk wujudkan generasi gemilang

Tuntunan putra-putri jadi insan suputra
Bimbing mereka jadi insan mandiri
Berjiwa satyam sivam sundaram
WHDI Jaya sepanjang masa



Langgeng Basuki

upanisad WHDI













Om swastyastu

Hong Ulun Basuki Langgeng

Upanisaad dengan tema tujuan hidupDalam ajaran agama Hindu ada sebuah sloka yang berbunyi "Moksartham Jagathita ya ca iti Dharmah" yang artinya tujuan beragama adalah untuk mencapai kebahagian abadi atau moksa. Yang kemudian dijabarkan dalam ajaran catur purusa artha.

Pengertian Catur Purusa Artha berdasarkan etimologiCatur purusa artha berasal dari kata catur yang berarti empat, purusa yang berarti hidup, artha berarti tujuan . Catur purusa artha berarti empat tujuan hidup sebagai manusia . Hal ini tertulis dalam Brahma Purana 228,45 yaitu"dharma, artha, kama, moksana sarira sadhanam"artinya : badan yang disebut sarira hanya boleh digunakan alat untuk mencapai dharma, artha, kama, moksa.Bagian-bagian Catur purusa artha
  1. dharma adalah kebenaran absolut, yang mengarahkan manusia untuk berbudi pakerti luhur sesuai dengan ajaran agama yang menjadi dasar hidup. Dharma itulah yang mengatur dan menjamin kebenaran hidup manusia. keutamaan dharma sesungguhnya merupakan sumber datangnya kebahagiaan, keteguhan abadi, dan menjadi dasar dari semua tingkah laku manusia.
  1. artha adalah kekayaan dalam bentuk benda-benda duniawi yang merupakan penunjang kehidupan manusia. memiliki harta benda merupakan suatu keharusan , tetapi hal itu harus didasarkan dharma agar tidak dikusai oleh nafsu keserakahan . artha perlu diamalkan (dana punia) untuk  kepentingan manusia.
  1. kama adalah keinginan untuk memperoleh kenikmatan(wisaya). Manusia hidup cenderung untuk memenuhi keinginan . untuk memenuhi kama harus didasarkan oleh dhama agar tidak melenceng dari ajaran agama dan sebelum kita memenuhi kama kita harus memiliki artha.
  1. moksa adalah kelepasan, kemerdekaan dan kebebasan (Nirwana) menunggal dengan sang pencipta (Sang Hyang Widhi Yasa) sebagai tujuan utama,tertinggi, dan terakhir. moksa dapat tercapi jika dharma, artha, dan kama sudah terlaksana.  
Jadi dalam menjalani hidup ini kita harus mengamalkan ajara catur purusa artha dengan berurutan yaitu dari dharma ke artha lalu kama kemudian moksa. jangan kita mencari harta dulu tanpa didasarkan dharma sehingga cara memperolehnya tidak sesuai dengan ajaran agama seperti mencuri dan korupsi, dan seterusnya .






semoga bermanfaat


Om santih santih santih Om
Langgeng Basuki

upanisad WHDI

om swastyastu hong ulun basuki langgeng tak mudah memang melangkakan kaki, tapi ingatlah perjanan jauh ribuan kilo meter pun dimu...